Cahaya ISLAM
Mencari Titik Terang Kemurnian Islam
Ghadir Khum
adalah sebuah tempat yang berlokasi dekat Al-Juhfa..
yang merupakan tempat perlintasan bagi para jamaah haji yang ingin menuju Madinah, Mesir, Irak, Suriah, Najaf dan ke seluruh negeri lainnya. Tempat tersebut sangatlah strategis sebagai tempat peristirahatan dalam perjalanan mereka. Tempat tersebut menjadi tempat yang bersejarah yang dikenal dengan peristiwa ‘al-Ghadir’, disitulah Rasulullah Saaw mengumunkan tentang seorang pewaris khilafah spritual dan duniawi yang akan menggantikan kedudukan beliau sebagai penerus risalah Ilahi, akan mampu bertanggung jawab dan meneruskan risalah yang beliau emban.
yang merupakan tempat perlintasan bagi para jamaah haji yang ingin menuju Madinah, Mesir, Irak, Suriah, Najaf dan ke seluruh negeri lainnya. Tempat tersebut sangatlah strategis sebagai tempat peristirahatan dalam perjalanan mereka. Tempat tersebut menjadi tempat yang bersejarah yang dikenal dengan peristiwa ‘al-Ghadir’, disitulah Rasulullah Saaw mengumunkan tentang seorang pewaris khilafah spritual dan duniawi yang akan menggantikan kedudukan beliau sebagai penerus risalah Ilahi, akan mampu bertanggung jawab dan meneruskan risalah yang beliau emban.
Ditulis dalam Artikel | 24 Komentar »
Al-Qur’an menjelaskan tiga persyaratan bagi setiap golongan dan agama umat ini yaitu: iman kepada Allah, beriman kepada akhirat dan melaksanakan perbuatan amal shaleh, ayat tersebut berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin[1], siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah[2], hari Kemudian dan beramal saleh[3], mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [4] Yang menjelaskan persyaratan keselamatan buat mereka. Apakah tujuan ayat adalah sesuatu yang telah mereka pahami? Ataukah dalam bentuk pamahaman yang lain?
Lanjut Baca »
Kita menyakini bahwa Allah Swt mempunyai kekuasaan mutlak untuk mengatur makhluk-Nya. Dengan dalil ini bahwa apakah Allah Swt akan memasukkan hamba-Nya yang berbuat kebajikan kedalam neraka dan memasukkan hamba-Nya yang berbuat maksiat ke dalam surga? Tidakkah Dia adalah Maha Adil , dan melakukan perbuatan-Nya sesuai dengan hikmah dan keadilan? Dan pembahasan ini terkait ke dalam penjelasan ayat berikut: “Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.” (QS. Faathir ayat 43)
Lanjut Baca »
Kata pertemuan dengan Allah (liqa’ Allah) disebutkan berulang-ulang dalam al-Qur’an yang benar-benar memiliki arti “kehadiran di akhirat”
. Jelaslah maksud dari “pertemuan dengan Allah” bukanlah pertemuan
secara fisik seperti halnya pertemuan manusia dengan manusia lainnya
yang saling berhadapan.
Lanjut Baca »
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Hikmah | 12 Komentar »
Telah ditetapkan melalui dalil akal bahwa Tuhan tidaklah memiliki jasad dan berbentuk, tidaklah menempati sebuah ruangan dan waktu. Hal ini menjadi dalil bahwa Tuhan Yang Agung adalah zat yang tidak dapat dilihat. Namun, sebahagian kalangan penafsir menyatakan bahwa Tuhan akan menampakkan dirinya di hari kiamat, mereka berdalil bahwa hamba-hamba yang soleh akan melihat wujud Tuhan di hari kiamat, melalui ayat yang berbunyi: “Kepada Tuhannyalah mereka Melihat”.[1] Apakah maksud ayat tersebut?
Lanjut Baca »
Manusia adalah makhluk yang bebas dan memilih(ikhtiar), yang bisa mencari jalan nasibnya. Dari sisi lain, manusia ditentukan oleh garis keturunannya. Mereka katakan bahwa orang tua tidak hanya menurunkan sifat-sifat lahiriah pada si anak, namun juga bisa melahirkan karakter si anak yang mencakup sisi kebaikan dan keburukan. Apakah faktor genetik ini mempunyai pengaruh yang dominan membentuk karakter si anak , dan bagaimana pula hubungan dengan kebebasan manusia (ikhtiar) dalam membangun karakternya?
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Artikel | 22 Komentar »
Adalah kata ‘pengikut Al-Masih’ dalam kitab-kitab teologi menggambarkan tentang keyakinan Trinitas (Tuhan Bapa, Rahul Kudus, dan Yesus Kristus) dan permasalahan- permasalahan yang mendasar yang bersumber pada akidah mereka. Tidak
adanya dalil dari para pengikut Masih atas keyakinan mereka, sementara
mereka mengklaim diri mereka telah menyakini monoteisme, dengan
pengertian satu dalam kemajemukan. Apakah kesatuan dalam pengertian ini, berhak ada pada zat Tuhan. Sementara independen (kemandirian) terlepas pada zat-Nya dan tidak bertentangan dengan argumentasi akal?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar